Kisah Sukses Zinedine Zidane  

Siapa yang tak kenal dengan Zinedine Zidane saat ini? Kemampuannya memainkan si kulit bundar dan kontroversinya pada Piala Dunia 2006 lalu membuat namanya sangat dikenal seantero jagad.
Terlepas dari kontroversi yang ditimbulkan akibat ulah menanduk pemain lawan, Materazzi dari Italia, Zizou – demikian panggilan akrabnya – adalah seorang pemain sepakbola yang sangat berbakat. Dia dianggap sebagai figur paling penting saat mengantarkan Perancis menjadi juara dunia sepakbola pada tahun 1998. Perannya juga sangat signifikan dalam mengangkat moral tim ketika Perancis yang kurang bersinar di awal piala dunia 2006, akhirnya berhasil mencapai partai final.

Pria keturunan Algeria yang lahir di Perancis ini merupakan seorang anak imigran yang mencoba mengubah nasib di Perancis. Dan, layaknya imigran yang sangat minoritas, maka keluarga Zidane pun tumbuh dalam lingkungan yang keras dan jauh dari kecukupan. Anak dari lima bersaudara ini pun sadar, bahwa ia mungkin tak kan bisa menempuh pendidikan yang tinggi layaknya orang lain yang berkecukupan. Karena itu, ia memilih menekuni hobinya, sepakbola.

Kelahiran 23 Juni 1972 ini lantas dikenal sebagai anak yang sangat berbakat menggocek bola. Bahkan, ia kadang menemukan tekniknya sendiri yang unik saat menguasai bola. Dalam salah satu wawancaranya dengan media lokal Perancis, Zidane mengatakan, “Bakat bukanlah apa-apa tanpa latihan terus menerus. Saya bisa menggunakan teknik saya karena saya terus berusaha melatih kemampuan dengan menambah porsi bermain bola.” Selain itu, Zidane juga mengatakan, bahwa ucapan ayahnyalah yang membuat ia merasa harus berlatih lebih giat dari siapapun. ”Ayah saya pernah berkata, sebagai seorang imigran, kita harus bekerja lebih giat dari orang lain, dan kita pun tak boleh mudah menyerah.”

Niatnya mengubah nasib melalui sepakbola menemui jalan terang saat bakatnya ditemukan oleh Jean Varraud yang membuatnya berlabuh ke sebuah klub, Cannes, saat ia baru berusia 16 tahun. Berkat latihan kerasnya, setahun kemudian ia sudah dipercaya masuk ke tim senior Cannes dan bermain di divisi pertama liga Perancis. Dari sana, kemampuannya makin meningkat. Dan, hal itu langsung menarik klub liga utama Perancis, Bordeaux untuk mengontraknya. Di sinilah karirnya di lapangan hijau makin bersinar. Bahkan, di kejuaraan Eropa, UEFA Cup tahun 1995/1996, ia berhasil mengantarkan klubnya itu hingga ke babak final.

Karisma dan talenta Zidane akhirnya membuat tim besar Italia, Juventus, memutuskan memboyongnya ke tim tersebut. Tak butuh lama beradaptasi, ia pun langsung bisa bersinar saat menjadi skuad inti Juventus. Tak tanggung-tanggung, pada masa awal bergabungnya ke Juventus, Zidane langsung membawa tim itu jadi juara UEFA Cup, Piala Super Eropa, dan Piala Intercontinental sekaligus.

Bersama rekan-rekan setimnya, Zidane membawa Juventus juara liga Italia dua tahun berturut-turut, yakni tahun 1997 dan 1998. Kegemilangannya di Juventus dan kesuksannya membawa Perancis juara Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000 menarik banyak klub hebat dunia. Dan, yang beruntung mendapatkan Zidane pada akhirnya adalah tim terkaya Spanyol, Real Madrid. Ia pun mencetak rekor pemain termahal saat itu dengan biaya transfer mencapai US$ 66 juta atau setengah triliun rupiah lebih. Harga itu langsung ‘ditebusnya’ dengan membawa tim tersebut jadi juara Piala Champion Eropa pada tahun 2001/2002.

Berbagai prestasi terus didulangnya. Ia pun sempat dianugerahi FIFA, lembaga sepakbola dunia, sebagai pemain terbaik dunia hingga tiga kali, yakni tahun 1998, 2000, 2003. Tahun 2006, jika bukan karena kasus kontroversi tandukannya di Piala Dunia, barangkali, Zidane bisa jadi pemain terbaik lagi. Terlepas dari kontroversi itu, hingga keputusannya gantung sepatu pada tahun 2006, setidaknya Zidane telah mengukir prestasi emas yang tak mungkin dilupakan orang. Perjuangannya sejak kecil untuk merubah nasib melalui sepakbola telah menjadi kenyataan.

Meski sudah sukses, ia tak melupakan masa sulit ketika kecil. Ia sangat peduli pada negara-negara dunia ketiga alias negara tertinggal di dunia. Karena itu, ia pun dipercaya menjadi Duta UNDP (United Nations Development Program). Ia berkampanye untuk membantu negara miskin demi mencapai negara sejahtera seperti yang dicanangkan dalam the Millennium Development Goals. Selain berkeliling ke berbagai negara untuk mengkampanyekan antikemiskinan, ia juga beberapa kali mengadakan pertandingan sepakbola amal untuk mengumpulkan dana bagi masyarakat negara miskin.

Tekad Zidane dibarengi kerja kerasnya telah membuat impian sang maestro sepakbola itu jadi nyata. Bukan hanya mampu merubah nasib dari miskin menjadi kaya dan terkenal dari sepakbola, ia juga berusaha merubah nasib kaum miskin di negara-negara yang tertinggal. Sungguh sebuah kesuksesan sejati yang patut diteladani siapa saja.

Read More...
AddThis Social Bookmark Button

Dare to Failed  

PERNYATAAN John. F. Kennedy ini saya yakini kebenarannya. Itu bukan sekedar retorika, tetapi memang sudah terbukti dalam perjalanan hidup saya. Gagal total itulah awal karier bisnis saya.

Pada akhir 1981, saya merasa tak puas dengan pola kuliah yang membosankan. Saya nekad meninggalkan kehidupan kampus. Saat itu saya berpikir, bahwa gagal meraih gelar sarjana bukan berarti gagal dalam mengejar cita-cita lain. Di tahun 1982, saya kemudian mulai merintis bisnis bimbingan tes Primagama, yang belakangan berubah menjadi Lembaga Bimbingan Belajar Primagama.

Bisnis tersebut saya jalankan dengan jatuh bangun. Dari awalnya yang sangat sepi peminat - hanya 2 orang - sampai akhirnya peminatnya membludak hingga Primagama dapat membuka cabang di ratusan kota, dan menjadi lembaga bimbingan belajar terbesar di Indonesia.

Dalam kehidupan sosial, memang kegagalan itu adalah sebuah kata yang tidak begitu enak untuk didengar. Kegagalan bukan sesuatu yang disukai, dan suatu kejadian yang setiap orang tidak menginginkannya. Kita tidak bisa memungkiri diri kita, yang nyata-nyata masih lebih suka melihat orang yang sukses dari pada melihat orang yang gagal, bahkan tidak menyukai orang yang gagal.

Maka, bila Anda seorang entrepreneur yang menemui kegagalan dalam usaha, maka jangan berharap orang akan memuji Anda. Jangan berharap pula orang di sekitar anda maupun relasi Anda akan memahami mengapa Anda gagal.

Jangan berharap Anda tidak disalahkan. Jangan berharap juga semua sahabat masih tetap berada di sekeliling Anda. Jangan berharap Anda akan mendapat dukungan moral dari teman yang lain. Jangan berharap pula ada orang yang akan meminjami uang sebagai bantuan sementara. Jangan berharap bank akan memberikan pinjaman selanjutnya.

Mengapa saya melukiskan gambaran yang begitu buruk bagi seorang entrepreneur yang gagal? Begitulah masyarakat kita, cenderung memuji yang sukses dan menang. Sebaliknya, menghujat yang kalah dan gagal. Kita sebaiknya mengubah budaya seperti itu, dan memberikan kesempatan kepada setiap orang pada peluang yang kedua.

Menurut pengalaman saya, apabila orang gagal, maka tidak ada gunanya murung dan memikirkan kegagalannya. Tetapi perlu mencari penyebabnya. Dan justru kita harus lebih tertantang lagi dengan usaha yang sedang kita jalani yang mengalami kegagalan itu. Saya sendiri lebih suka mempergunakan kegagalan atau pengalaman negatif itu untuk menemukan kekuatan-kekuatan baru agar bisa meraih kesuksesan kembali.

Sudah tentu, kasus kegagalan dalam bisnis maupun dunia kerja, saat krisis ekonomi kian merebak dan bertambah. Ribuan orang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan kehilangan mata pencahariannya. Sungguh ironis, seperti halnya kita, suka atau tidak suka, setiap manusia pasti akan mengalami berbagai masalah, bahkan mungkin penderitaan.

Bagi seorang entrepreneur, sebaiknya jangan sampai terpuruk dengan kondisi dan suasana seperti itu. Kita harus berani menghadapi kegagalan, dan ambil saja hikmahnya (kejadian dibalik itu). Mungkin saja kegagalan itu datang untuk memuliakan hati kita, membersihkan pikiran kita dari keangkuhan dan kepicikan, memperluas wawasan kita, serta untuk lebih mendekatkan diri kita kepada Tuhan. Untuk mengajarkan kita menjadi gagah, tatkala lemah. Menjadi berani ketika kita takut. Itu sebabnya mengapa saya juga sepakat dengan pendapat Richard Gere, aktor terkemuka Hollywood, yang mengatakan bahwa kegagalan itu penting bagi karier siapapun.

Mengapa demikian? Karena selama ini banyak orang membuat kesalahan sama, dengan menganggap kegagalan sebagai musuh kesuksesan. Justru sebaliknya, kita seharusnya menganggap kegagalan itu dapat mendatangkan hasil. Ingat, kita harus yakin akan menemukan kesuksesan di penghujung kegagalan.

Ada beberapa sebab dari kegagalan itu sendiri. Pertama, kita ini sering menilai kemampuan diri kita terlalu rendah. Kedua, setiap bertindak, kita sering terpengaruh oleh mitos yang muncul di masyarakat sekitar kita. Ketiga, biasanya kita terlalu "melankolis" dan suka memvonis diri terlebih dahulu, bahwa kita ini dilahirkan dengan nasib buruk. Keempat, kita cenderung masih memiliki sikap, tidak mau atau tidak mau tahu dari mana kita harus memulai kembali suatu usaha.

Dengan mengetahui sebab kegagalan itu, tentunya akan membuat kita yakin untuk bisa mengatasinya. Bila kita mengalami sembilan dari sepuluh hal yang kita lakukan menemui kegagalan, maka sebaiknya kia bekerja sepuluh kali lebih giat. Dengan memiliki sikap dan pemikiran semacam itu, maka akan tetap menjadikan kita sebagai sosok entrepreneur yang selalu optimis akan masa depan. Maka, sebaiknya janganlah kita suka mengukur seorang entrepreneur dengan menghitung berapa kali dia jatuh. Tapi ukurlah, berapa kali ia bangkit kembali.

Purdi E Chandra

Read More...
AddThis Social Bookmark Button

Berfokus pada Kelebihan  

“Anak-anak, coba tuliskan tiga kelebihanmu, ” kata seorang guru yang hari itu menjadi pembimbing retreat bagi anak-anak sekolah dasar.

Menit demi menit berlalu namun anak-anak itu seakan masih bingung.

Dengan setengah berakting, sang guru kemudian bersuara keras : “Ayo, tuliskan! Kalau ngga, kertasmu saya sobek lo.” Anak-anak manis itu seketika menjadi salah tingkah.

Beberapa di antara mereka, memang tampak mulai menulis. Salah satu di antara mereka menulis di atas kertas, “Kadang-kadang nurutin kata ibu. Kadang-kadang bantu ibu. Kadang-kadang nyuapin adik makan.”

Penuh rasa penasaran, sang guru bertanya kepadanya : “Kenapa tulisnya kadang-kadang? “. Dengan wajah penuh keluguan, sang bocah hanya berkata : “Emang cuma kadang-kadang, pak guru”

Ketika semua anak telah menuliskan kelebihan dirinya, sang guru kemudian melanjutkan instruksi berikutnya : “Sekarang anak-anak, coba tuliskan tiga kelemahanmu atau hal-hal yang buruk dalam dirimu.”

Seketika ruangan kelas menjadi gaduh. Anak-anak tampak bersemangat. Salah satu dari mereka angkat tangan dan bertanya : “Tiga saja, pak guru?”. “Ya, tiga saja!” jawab pak guru. Anak tadi langsung menyambung : “Pak guru, jangankan tiga, sepuluh juga bisa!”.

Apa pelajaran yang bisa kita petik dari cerita sederhana itu? Saya menangkap setidaknya ada beberapa hal penting yang bisa kita pelajari. Salah satunya, kita sering tidak menyadari apa kelebihan diri kita karena lingkungan dan orang di sekitar kita jauh lebih sering mengkomunikasikan kepada kita kejelekan dan kekurangan kita.

Baru-baru ini, saya dan istri saya menyaksikan di sebuah televisi swasta pertunjukkan seni dari para penyandang cacat. Kami benar-benar terharu. Ada orang buta yang begitu piawai bermain piano atau kecapi. Pria tanpa lengan dan wanita muda yang tuli dapat menari dengan begitu indahnya. “Luar biasa, dia bisa menari dengan penuh penghayatan. Yang membuat saya heran, dia kan tuli tapi kok bisa mengikuti irama lagu dengan sangat tepat?”, kata istri saya terkagum-kagum.

Seorang pria buta yang bernyanyi dengan nada merdu sempat berkata, “Saudaraku, saya memiliki dua mata seperti Anda. Namun yang ada di depan saya hanyalah kegelapan. Ibu saya mengatakan saya bisa bernyanyi, dan ia memberi saya semangat untuk bernyanyi.”

Benarlah apa yang dikatakan Alexander Graham Bell : “Setelah satu pintu tertutup, pintu lainnya terbuka; tetapi kerap kali kita terlalu lama memandangi dan menyesali pintu yang telah tertutup sehingga kita tidak melihat pintu yang telah dibuka untuk kita.”

Fokuskan perhatian pada kelebihan kita dan bukan kelemahan kita.

Read More...
AddThis Social Bookmark Button

Bersujud di Keheningan Malam  

Penulis : Muhammad Shalih Ali Abdillah Ishaq

KotaSantri.com : Saudaraku, Wahai hamba Allah, malam telah melewati setengahnya. Siapa diantara kalian yang telah introspeksi diri dan insaf untuk melakukan ketaatan kepada Allah? Siapa diantara kalian yang telah bangun di malam ini dengan memenuhi hak-haknya? Siapa diantara kalian yang berkeinginan untuk membangun ruangan di surga sebelum pintunya di tutup?

Ingatlah bahwa umur kalian semakin berkurang, berbekallah dengan amal perbuatan. Sepertinya kalian telah mengabaikan hal itu. Semua amal baik akan mendapatkan balasan dan imbalan yang pantas. Apabila malam kalian tetap seperti ini, dari mana kalian akan mendapatkan imbalan dan balasan?

Saudaraku, berhentilah dan introspeksilah dirimu dengan jujur katakan kepada dirimu : Sampai kapan aku akan terus bicara dan tidak berbuat? Berapa kali aku memiliki keinginan dan tidak pernah aku laksanakan? Betapa tercelanya kedua mataku, yang tidak berhenti dari kebodohan ini. Betapa senang nafsuku, yang tidak mau menerima ketaatan. Berapa kali ia hanya memberi alasan, celakalah dia dengan mengatakan "seandainya", "akan", dan berapa kali engkau mengulurnya. Berapa kali ia hanya memiliki angan-angan yang tidak pernah punah? Lalu dilupakan, padahal kematian tidak pernah terlupakan, pasti akan datang.

Read More...
AddThis Social Bookmark Button

Empat Tahap Pengembangan Diri  

Dalam pandangan saya, tahap-tahap personal development dapat dilihat dari empat tahap berikut: pertama, mengenali diri sendiri. Kedua, memposisikan diri. Ketiga, mendobrak diri. Dan keempat, aktualisasi diri. Pada kesempatan ini, saya akab bahas tahap pertama terlebih dahulu.

Dibanding ciptaan Tuhan yang lainnya, manusia adalah ciptaan yang paling sempurna. Kesempurnaan di sini dilihat dari kelengkapan sisi-sisi manusia itu sendiri, yaitu adanya kebaikan, ada pula keburukan. Ada sisi yang kuat, ada pula sisi yang lemah. Manusia sebagai makhluk penuh potensi diri, harus selalu bertumbuh menuju aktualisasi dirinya. Manusia harus mengenali kedua sisi tersebut sebaik-baiknya. Sebab, mengenal diri sendiri adalah dasar dari action atau tindakan-tindakan, demi meraih sebuah cita-cita yang besar.

Contoh: setelah menganalisis diri dengan saksama, kemudian kita mampu menemukan kekuatan personal kita seperti kreativitas, semangat berinovasi, ketajaman analisis, kemampuan menemukan peluang, penerimaan terhadap hal-hal baru, semangat belajar yang tinggi, serta cita-cita atau tujuan-tujuan pribadi yang mulia. Tetapi di sisi lain, mungkin saja kita merasa memiliki kelemahan, seperti kurang disiplin, tidak fokus, kurang konsisten, tidak berani mencoba, atau tidak berani ambil risiko.

Pada kasus ini, kita lihat betapa kekuatan berupa potensi-potensi diri yang istimewa menjadi sulit berkembang, karena kelemahan-kelemahan yang tidak bisa dikendalikan atau dikelola dengan baik.

Titik krusialnya di sini adalah, memaksimalkan potensi atau kekuatan dan sekaligus meminimalkan pengaruh kelemahan kita. Caranya:

Pertama, berkomitmen untuk menghilangkan kelemahan-kelemahan tersebut.
Kedua, melakukan action atau usaha yang sungguh-sungguh untuk menghentikan pengaruhnya setiap kali kelemahan diri tersebut muncul.
Ketiga, menumbuhkan kebiasaan-kebiasaan baru yang mendorong mencuatnya potensi kita, dan pada saat bersamaan mengubur sedalam-dalamnya setiap kelemahan kita.
Keempat, terus-menerus menumbuhkan dan mengembangkan motivasi diri, supaya semangat selalu berkobar dan kita senantiasa memiliki mentalitas yang sehat.

Dan keempat hal tersebut harus kita mulai sekarang juga! Ingat, hanya orang yang memiliki motivasi dan berani bertindak saja yang akan sukses. Action is power! Tindakan adalah kekuatan!

Demikian dari saya Andrie Wongso
Action & Wisdom Motivation Training
Success is My Right
Salam sukses luar biasa!!!
www.andriewongso.com

Read More...
AddThis Social Bookmark Button

Menggali Hikmah di Lorong Rumah Sakit  

Penulis : Kania Ningsih

KotaSantri.com : Aku kemarin berada di tempat ini. Banyak orang lalu lalang. Tidak ada orang yang menutup hidung karena bau obat yang menyeruak seperti kata temanku yang sangat membenci datang ke tempat ini. Tetapi wangi pun tidak. Biasa saja. Atau lantai dan ruangan di tempat ini sudah memakai pewangi seperti yang diiklankan di TV? Ataukah penciumanku sudah tidak peka lagi karena tidak sengaja menikmati parfum pria-pria metroseksual di kampus atau sekolah, mengendus-endus uang haram, dan mencium yang terlarang. Hiy, a'udzubillah. Membayangkannya saja sungguh ngeri bin serem!

Aku kemarin berada di tempat ini. Orang-orang itu ada yang baru datang dan pergi. Kutemui berbagai wajah dan ekspresi -meski kebanyakan tak ada ekspresi karena terlalu lelah dengan cobaan hidup dan tidak tahu harus bagaimana selain menjalani hidup-. Sedih. Masih bagus ada ekspresi jika keluarga, saudara, atau teman mereka ditimpa musibah. Terkadang kesedihan, kegagalan, dan kegetiran hidup adalah lebih baik, lebih bisa mendekatkan diri pada Allah dengan meratap dan meminta tolong pada-Nya. Gembira, jika sebaliknya. Banyak yang diuji dengan kebahagiaan sehingga lupa pada Tuhannya. Perhaps we're not the one. Aku melihat banyak kehidupan di wajah itu. Wajah yang berkata tentang kehidupan.

Aku kemarin berada di tempat ini. Kukira cerita sedih saja yang ada, ternyata yang fun & entertaint juga ada. Tanpa maksud menertawakan orang, aku menemukan sepasang muda-mudi yang sedang berfoto ria depan tempat pengambilan obat. Yang lelaki berambut gondrong bergaya bak fotografer sambil memegang handphone berkamera dan memegang dagu perempuan di depannya, sedang menata gaya barangkali. Perempuan di depannya menelengkan kepala dengan gaya sedemikian rupa. Ow, sempat-sempatnya! Dan aku tersenyum. Teman di sampingku ikut tersenyum. Seketika aku jadi teringat cerita sang teman ketika beberapa waktu lalu mengantar kakaknya check up. Sedang BT-Btnya menunggu, tiba-tiba sang dokter lewat sambil ber-ssshhh ria karena kepedasan. Bibirnya terlihat memerah. Rupanya sang dokter habis makan bakso. Sempat juga ya? Aku jadi tersenyum lagi. Thank God still I found my humourous. Mungkin sebagian kamu bertanya apanya yang lucu. Tidak lucu menertawakan orang lain! Tunggu dulu, bukannya aku sudah bilang tidak bermaksud menertawakan mereka. Itu keluar spontan saja!

Hmm, jadi teringat Rasulullah. Beliau tertawa sampai kelihatan giginya, tapi tidak terbahak-bahak seperti keledai. Beliau bercanda tentang suatu yang benar, tidak ada kebohongan. Misalnya saja ketika seorang nenek bertanya kepada Rasulullah apakah dia bisa masuk surga. Rasulullah menjawab bahwa di surga tidak ada nenek-nenek. Dan menangislah si nenek mendengarnya. Rasulullah tertawa dan berkata lagi bahwa si nenek bisa masuk surga dan di sana semua orang menjadi muda termasuk si nenek. Seorang dokter anak dari West Virginia, Hunter Adams mengatakan bahwa kegembiraan adalah lebih penting dari obat apapun. Norman Cousins, pendiri psikoneuroimunology dan redaktur Saturday Review tahun 1960-an, pernah jatuh sakit dan dokter memvonisnya tak bisa sembuh lagi. Setelah membaca buku Stress of Life, dia menjadi pemburu dan penangkap tertawa. 30 menit menonton film lucu dapat memberikan kepadanya 2 jam tidur tanpa rasa sakit. Enam bulan kemudian, dia benar-benar sembuh!

Ow maaf, aku ngelantur. Kemarin aku berada di tempat ini. Disini ada fashion show. Diantara para pembesuk itu serombongan peragawati berjalan dengan anggunnya. Warna pakaian mereka senada dan terlihat mentereng membuat mata semua orang melirik. Tempat ini, lorong ini, benar-benar tepat sebagai catwalk mereka. Ah tidak. Bukan mereka saja, bukankah aku juga termasuk salah seorang dari mereka??

Teman, kemarin aku berada di tempat ini, berjalan terus tanpa melihat ujung. Yang ada di depanku hanya orang yang lalu lalang, gedung putih di kiri dan kanan, dan dua belokan yaitu kiri dan kanan. Belokan itu mirip kehidupan manusia. Belokan itu adalah pilihan hidup manusia. Manusia hidup selalu berada dalam 2 pilihan, benar atau salah, jahat atau baik, hitam atau putih. Akal, hati, dan hawa nafsunya berdiskusi untuk memilih jalan mana. Setiap jalan sudah ada konsekuensinya. Semua orang tahu kalau memilih jalan yang salah pasti akan tersesat. Sebaliknya, jalan yang benar akan menuntun pada tujuan. Hanya, apakah orang itu tahu jalan yang tempuhnya itu salah atau benar? Dia perlu bertanya pada orang yang lebih tahu.

Teman, kemarin aku berada di tempat ini. Semua terlihat serba putih, lantai keramik putih, dinding dicat putih, suster berpakaian putih, hanya sekarang dokter tidak melulu berpakaian putih, bercelana jeans pun jadi. Aku diam-diam bersyukur tidak pernah berada di tempat seperti ini lama-lama. A'udzubillah, mudah-mudahan tidak pernah. Terbayang, betapa bosannya tidur di atas seprei putih, diantara bantal putih dan dinding putih dan dikelilingi gorden putih. Fuih, padahal warna di jagat raya ini ada jutaan, man!

Betapa mengerikannya ketika kita tidak bisa berbuat apa-apa dan semua hal mesti dibantu orang, makan, minum, ke WC, mandi, wudhu! Merepotkan saja! Betapa tidak nyamannya ketika harus minum obat setiap saat. Alhamdulillaah, kata Rasulullah -kata Raihan juga- kita mesti bersyukur atas nikmat sehat sebelum sakit. Allahumma 'aafinii fi badani, allahumma 'aafin fii sam'ii, allhumma 'aafini fii basharii, laailaaha illaa anta.

Aku kemarin aku berada di tempat ini, di lorong ini, lorong rumah sakit. Banyak penulis cari inspirasi disini. Entah besok aku akan ada dimana. Aku selalu menanti kejutan. Walau tak selalu menyenangkan, menangkap berbagai hikmah yang tersembunyi dari segala kejadian akan menjadi hal yang menyenangkan. Kenapa? Karena kamu akan jadi orang yang serba bisa. Kamu bisa bicara dengan angin yang berhembus, kamu bisa bicara dengan dinding dan dengan hati manusia. Yah, tidak seekstrim itu sih, tidak seperti Nabi Sulaiman yang bisa bicara dengan semut dan binatang lain. Tapi, kamu bisa merasakannya, menggali hikmah dengan hatimu.

Read More...
AddThis Social Bookmark Button

I Love U Mom  

Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan bahagian nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata : “Makanlah nak, aku tidak lapar” ———-KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA

Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia dapat memberikan sedikit makanan bergizi untuk pertumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk disamping kami dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan suduku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : “Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KE DUA

Sekarang aku sudah masuk Sekolah Menengah, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak mancis untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kepentingan hidup. Di kala musim sejuk tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak mancis. Aku berkata : “Ibu, tidurlah, sudah malam, besok pagi ibu masih harus kerja.” Ibu tersenyum dan berkata : “Cepatlah tidur nak, aku tidak penat” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KE TIGA

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi loceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata : “Minumlah nak, aku tidak haus!” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KE EMPAT

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai keperluan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang pakcik yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : “Saya tidak butuh cinta” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KE LIMA

Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pencen. Tetapi ibu tidak mahu, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi keperluan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi keperluan ibu, tetapi ibu berkeras tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : “Saya ada duit” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KE ENAM

Setelah lulus dari ijazah, aku pun melanjutkan pelajaran untuk buat master dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universiti ternama di Amerika berkat sebuah biasiswa di sebuah syarikat swasta. Akhirnya aku pun bekerja di syarikat itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mahu menyusahkan anaknya, ia berkata kepadaku : “Aku tak biasa tinggal negara orang” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KE TUJUH

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanser usus, harus dirawat di hospital, aku yang berada jauh di seberang samudera atlantik terus segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani pembedahan. Ibu yang kelihatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perit, sakit sekali melihat ibuku dalam keadaan seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : “Jangan menangis anakku, Aku tidak kesakitan” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KE DELAPAN.

Setelah mengucapkan kebohongannya yang kelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya. Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : “Terima kasih ibu..!” Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktiviti kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah. Jika dibandingkan dengan pasangan kita, kita pasti lebih peduli dengan pasangan kita. Buktinya, kita selalu risau akan kabar pasangan kita, risau apakah dia sudah makan atau belum, risau apakah dia bahagia bila di samping kita. Namun, apakah kita semua pernah merisaukan kabar dari orangtua kita? Risau apakah orangtua kita sudah makan atau belum? Risau apakah orangtua kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan kembali lagi… Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi orangtua kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata “MENYESAL” di kemudian hari.

Read More...
AddThis Social Bookmark Button