Jangan Menangisi Kesalahan  

Lisensi Artikel:

Artikel ini bebas dikutip, dengan menyertakan link sumber, namun apabila terpaksa menjiplak/copy paste, wajib meminta izin terlebih dahulu dari penulis artikel ini.

Banyak orang lebih cenderung bersikap meyesali kesalahannya, dan terpuruk selamanya dalam kesalahan tersebut, tanpa bisa bangkit kembali seperti sedia kala.

Sahabat, ketika kita melakukan kesalahan dalam suatu hal, bersyukur dan bersabarlah. Bersyukurlah karena Allah senantiasa memberikan pelajaran yang sangat penting bagimu. Dan bersabarlah atas akibat dari kesalahan yang telah dibuat.

Kesalahan itu ibarat kita memecahkan sebuah cermin. Ketika cermin pecah, sudah pasti ketika kita menyesal selamanya pun itu cermin tak akan kembali seperti sedia kala. Ambil pelajaran kenapa kita bisa memecahkan cermin tersebut? Berusalah untuk tidak melakukan kesalahan yang sama.  Gantilah cermin yang sudah rusak dengan cermin baru (salah satunya dengan meminta maaf dan bersabar), dan janganlah menangisi terlalu lama atas apa yang kita lakukan.  Menangis hanya bermanfaat untuk intropeksi diri dan muhasabah, namun menangis hanya membawa kesengasaraan bila hanya diiringi rasa penyesalan.

Di sebuah perusahaan, pernah terjadi seorang karyawan merugikan perusahaan sebesar 10 juta dolar. Kemudian pegawai itu dipanggil oleh direktur. Karyawan itu bilang, "Bapak pasti ingin saya mengundurkan diri.". Direktur yang bijak akan berkata, "apa kamu bercanda? Saya tidak akan pernah melepas seorang karyawan yang sudah dididik sampai menghabiskan biaya 10 juta dolar!"

Ternyata pegawai tersebut 5 tahun kemudian, berhasil memberikan keuntungan bagi perusahaan sebesar 27,5 juta dolar. Sungguh efek yang luar biasa, bukan?

"Sahabat, manusia tak ada yang sempurna. Kecuali Rasulullah seorang saja. Nah, jadikanlah kesalahan kita itu sebagai guru untuk kita belajar menjadi orang yang lebih baik. Jangan meratapi berbagai kesalahan yang telah dibuat, namun yang benar adalah intropeksi atas kesalahan yang kita lakukan, agar jangan sampai terulang kembali di masa yang akan datang dan syukur-syukur bisa menjadikan kita seorang yang sukses, baik dunia maupun akhirat."

Read More...
AddThis Social Bookmark Button

Melihat Potensi Diri  

Lisensi Artikel:

Artikel ini bebas dikutip, dengan menyertakan link sumber, namun apabila terpaksa menjiplak/copy paste, wajib meminta izin terlebih dahulu dari penulis artikel ini.

Sering saya mendengar teman berkata,

 "Aduh, kenapa yang orang itu kok pinter banget? Saya koq bodoh banget, itung**an gampang begini aja ga bisa."

"Loe tu makan apa sih? Kok pinter banget? Gue aja yang udah belajar semalem suntuk ga bisa ngerjain soal ginian, loe sekali liat langsung kelar."

"Aduh, dia hebat ya, saya gak mungkin bisa kayak dia, dia orangnya supel abis, asik, la saya cuma bisa duduk termenung di sini, ga punya temen...."

Subhanallah... Dan masih banyak lagi perkataan yang lainnya.

Sahabat, tahukah bahwa Allah SWT, Tuhan kita, telah memberikan banyak kekuatan dan potensi pada diri kita? Coba silakan menghadap ke cermin, perhatikan baik-baik...

Aku memiliki 2 mata yang indah, bisa melihat alam ini dengan baik...

Aku memiliki 2 telinga yang bisa mendengar perkataan orang lain...

Aku memiliki hidung sehingga dapat bernapas dengan baik...

Mulutku dapat berbicara dengan lancar...

Kedua tanganku sempurna...

Kedua kakiku bisa berjalan...

Organ tubuhku, semuanya sehat...

Kurang apalagi? Otak, jantung, hati, dan yang lain? Normal kan? Sikap hidup kita kebanyakan dipengaruhi oleh persepsi negatif.  Kita sering merasa minder atas apa yang dicapai oleh orang lain, namun tidak dicapai oleh diri kita.

Siapa yang tidak ingin kaya? Siapa yang tidak ingin meraih juara? Siapa yang tidak mau sukses?

Allah SWT sudah memberikan modal pada kita untuk mendapatkan hal itu semua.  Mengapa tidak kita gunakan sebaik-baiknya. Janganlah kita melihat diri orang lain itu sebagai penghalang untuk kita berprestasi, karena apa? Bukankah modalnya sama? Potensinya sama? Justru terkadang ada yang bisa lebih sukses walau dia lebih miskin atau justru cacat.

Sahabat, semangatlah dalam hidup ini, karena Allah sayang sama kita. Dia sudah memberikan yang terbaik untuk kita, kenapa kita tidak berusaha memanfaatkan karuniaNya untuk menghasilkan yang terbaik? Gunakan potensimu sebaik-baiknya, dan jadilah orang yang juara dari pada para juara!!

Read More...
AddThis Social Bookmark Button

Senyuman  

Lisensi Artikel:

Artikel ini bebas dikutip, dengan menyertakan link sumber, namun apabila terpaksa menjiplak/copy paste, wajib meminta izin terlebih dahulu dari penulis artikel ini

Ketika kita kesal, marah, tersinggung, tertekan, dan perasaan-perasaan lain yang buruk, lantas ada seseorang yang menghadiahi kita senyuman? Bukan senyum sinis meremehkan, bukan senyum cengengesan, bukan pula senyum tak karuannya orang tak waras. Tapi senyuman tulus yang datang dari hati. Tentu akan berbeda penampakannya dengan senyum-senyum yang lain. Kita bisa merasakannya. Karena yang datang dari hati akan sampai ke hati pula. 

Kesal kita, amarah kita, seketika akan cair karena senyum itu kan? Itulah senyum. Dia punya banyak arti. Menguatkan, memotivasi, menerima, kegembiraan, kehangatan dan mendukung.

Pantaslah jika Rasulullah berkata bahwa, "senyum kita pada saudara kita adalah shadaqah, pemberian tak ternilai dari seseorang pada saudaranya." Pantas juga jika Allah SWT mengisyaratkan dalam QS. Abasa, bahwa calon penghuni syurga itu mukanya berseri-seri penuh senyuman, sebaliknya dengan calon penghuni neraka.

Hiasilah wajah kita dengan senyuman. Untuk ketentraman hati kita dan saudara kita!

Read More...
AddThis Social Bookmark Button

Air Mata dan Cinta  

Katanya nih, cinta bikin apa yg dicintai itu bener-bener masuk ke lubuk hati. Bicara lubuk hati, apalagi yg terdalam, pasti berkaitan banget ama yg namanya kelembutan. Hati tuh lembuuuttt banget. Kalo dah kayak gini nich, cinta itu deket ama yang namanya air mata, nangis dech... Makanya, orang yg lagi jatuh cinta, bakal gampang nangis kalo inget ama yg dicintainye, ya kagak? Ngaku dech!

Ngomong-ngomong soal nangis nich, A'a BOY punya cerita. Cerita ini cerita jadul. Ada 2 cerita.

Cerita pertama. Dulu, ada negeri kafir yg mo nyerang negeri Islam. Ketua kafir itu atur siasat. Sebelum nyerang, diselidiki dulu negeri Islam itu. So, si ketua ngutus seorang mata-mata ke negeri Islam itu. Si mata-mata tadi nyamar jadi orang Islam. Trus dia masuk ke negeri Islam itu. Tampangnya pokoke Islam banget dah, pake janggut segala kali! Tiba-tiba dia ngeliat ada seorang anak muda yg lagi nangis di pojokan dinding. Penasaran, si mata-mata tadi ngedeketin tuh anak muda. Trus dia nanya : " Kenapa kamu nangis?" Jawab anak muda tadi : "Aku nangis karena tadi aku ketinggalan shalat berjama'ah di masjid." Kagetlah si mata-mata. Trus dia balik ke negerinya dan laporan ke ketua. Dia nyeritain apa yg diliatnya di negeri Islam. Trus kata ketua : "OK, kita jangan nyerang Islam dulu. Tunggu kalo saatnya dah tepat."

Cerita kedua. Sebetulnya ini lanjutan dari cerita pertama tadi. Beberapa tahun kemudian, diutus lagi dech mata-mata. Then, si mata-mata nyamar jadi orang Islam. Pokoknya kayak cerita pertama. Trus dia ngeliat ada anak muda yg nangis lagi duduk. Si mata-mata ngedatengin tuh anak trus nanya : "Kenapa kamu nangis?" Jawab si anak muda : " Aku nangis karena baru aja ditinggal ama kekasihku?" Ngedenger jawaban kayak gini, si mata-mata balik ke negerinya. Dia lapor ke ketua tentang apa yg diliatnya di negeri Islam. Trus, sang ketua berkata : "OK, saatnya kita serang mereka!"

Bener, negeri kafir kemudian nyerang negeri Islam tadi . Dan apa yg terjadi, soddara-soddara? Maka, hancur-lebur dan luluh-lantaklah negeri Islam itu. Masya Allah...

Kenapa hayo koq bisa kayak gitu? Ketua kafir tadi ngeliat kalo yg pertama, pemuda-pemuda Islam-nya sholeh-sholeh. Mereka cinta benget ama Allah. Sampe-sampe mereka sedih & nangis gara-gara ketinggalan shalat berjama'ah di masjid. So, kalo negeri kafir nyerang saat itu, pasti orang kafir kalah.

Trus, setelah beberapa tahun, ada yg berubah di negeri Islam itu. Anak-anak mudanya dah ga sholeh lagi (atw mungkin kurang sholeh kali ya...). Ini bisa diliat ada anak muda Islam yg nangis gara-gara ditinggal pacarnya. Pasti, hari-harinya dihabisin bwt kekasihnya, bwt nemenin, bwt mikirin, en bwt-bwt yg laen. Knapa waktunya kagak dihabisin bwt Allah & Islam yak? Ini pertanda kalo negeri Islam tadi dah lemah. Ini dia saatnya buat nyerang. 

Gitu, Pren. Generasi yg pertama nangis ngeluarin air mata (ya iyalah, masak ngeluarin ingus) gara-gara cinta ama Allah. Generasi yg kedua nangis ngeluarin air mata (air mata buaya bukan ya?) gara-gara cinta ama pacarnya.

Nah, Pren, air mata kita termasuk yg mana nich? Kalo kita nangis gara-gara siapa hayo?? Yg jelas bukan gara-gara A'a BOY! Hwehehe.. Moga2 air mata & nangis kita hanya karena Allah! (a2i)

TAHUKAH KAMU?

KECEPATAN CAHAYA

"...Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu." [Q.S. Al Hajj : 47]

Satu hari seperti 1000 tahun. Dgn menggunakan hitungan ini, kita dapat merumuskan bahwa rumus kecepatan cahaya itu c=3x100.000. Al Quran keren kan?

Source : http://dudung.net

Read More...
AddThis Social Bookmark Button

Kisah Sukses Zinedine Zidane  

Siapa yang tak kenal dengan Zinedine Zidane saat ini? Kemampuannya memainkan si kulit bundar dan kontroversinya pada Piala Dunia 2006 lalu membuat namanya sangat dikenal seantero jagad.
Terlepas dari kontroversi yang ditimbulkan akibat ulah menanduk pemain lawan, Materazzi dari Italia, Zizou – demikian panggilan akrabnya – adalah seorang pemain sepakbola yang sangat berbakat. Dia dianggap sebagai figur paling penting saat mengantarkan Perancis menjadi juara dunia sepakbola pada tahun 1998. Perannya juga sangat signifikan dalam mengangkat moral tim ketika Perancis yang kurang bersinar di awal piala dunia 2006, akhirnya berhasil mencapai partai final.

Pria keturunan Algeria yang lahir di Perancis ini merupakan seorang anak imigran yang mencoba mengubah nasib di Perancis. Dan, layaknya imigran yang sangat minoritas, maka keluarga Zidane pun tumbuh dalam lingkungan yang keras dan jauh dari kecukupan. Anak dari lima bersaudara ini pun sadar, bahwa ia mungkin tak kan bisa menempuh pendidikan yang tinggi layaknya orang lain yang berkecukupan. Karena itu, ia memilih menekuni hobinya, sepakbola.

Kelahiran 23 Juni 1972 ini lantas dikenal sebagai anak yang sangat berbakat menggocek bola. Bahkan, ia kadang menemukan tekniknya sendiri yang unik saat menguasai bola. Dalam salah satu wawancaranya dengan media lokal Perancis, Zidane mengatakan, “Bakat bukanlah apa-apa tanpa latihan terus menerus. Saya bisa menggunakan teknik saya karena saya terus berusaha melatih kemampuan dengan menambah porsi bermain bola.” Selain itu, Zidane juga mengatakan, bahwa ucapan ayahnyalah yang membuat ia merasa harus berlatih lebih giat dari siapapun. ”Ayah saya pernah berkata, sebagai seorang imigran, kita harus bekerja lebih giat dari orang lain, dan kita pun tak boleh mudah menyerah.”

Niatnya mengubah nasib melalui sepakbola menemui jalan terang saat bakatnya ditemukan oleh Jean Varraud yang membuatnya berlabuh ke sebuah klub, Cannes, saat ia baru berusia 16 tahun. Berkat latihan kerasnya, setahun kemudian ia sudah dipercaya masuk ke tim senior Cannes dan bermain di divisi pertama liga Perancis. Dari sana, kemampuannya makin meningkat. Dan, hal itu langsung menarik klub liga utama Perancis, Bordeaux untuk mengontraknya. Di sinilah karirnya di lapangan hijau makin bersinar. Bahkan, di kejuaraan Eropa, UEFA Cup tahun 1995/1996, ia berhasil mengantarkan klubnya itu hingga ke babak final.

Karisma dan talenta Zidane akhirnya membuat tim besar Italia, Juventus, memutuskan memboyongnya ke tim tersebut. Tak butuh lama beradaptasi, ia pun langsung bisa bersinar saat menjadi skuad inti Juventus. Tak tanggung-tanggung, pada masa awal bergabungnya ke Juventus, Zidane langsung membawa tim itu jadi juara UEFA Cup, Piala Super Eropa, dan Piala Intercontinental sekaligus.

Bersama rekan-rekan setimnya, Zidane membawa Juventus juara liga Italia dua tahun berturut-turut, yakni tahun 1997 dan 1998. Kegemilangannya di Juventus dan kesuksannya membawa Perancis juara Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000 menarik banyak klub hebat dunia. Dan, yang beruntung mendapatkan Zidane pada akhirnya adalah tim terkaya Spanyol, Real Madrid. Ia pun mencetak rekor pemain termahal saat itu dengan biaya transfer mencapai US$ 66 juta atau setengah triliun rupiah lebih. Harga itu langsung ‘ditebusnya’ dengan membawa tim tersebut jadi juara Piala Champion Eropa pada tahun 2001/2002.

Berbagai prestasi terus didulangnya. Ia pun sempat dianugerahi FIFA, lembaga sepakbola dunia, sebagai pemain terbaik dunia hingga tiga kali, yakni tahun 1998, 2000, 2003. Tahun 2006, jika bukan karena kasus kontroversi tandukannya di Piala Dunia, barangkali, Zidane bisa jadi pemain terbaik lagi. Terlepas dari kontroversi itu, hingga keputusannya gantung sepatu pada tahun 2006, setidaknya Zidane telah mengukir prestasi emas yang tak mungkin dilupakan orang. Perjuangannya sejak kecil untuk merubah nasib melalui sepakbola telah menjadi kenyataan.

Meski sudah sukses, ia tak melupakan masa sulit ketika kecil. Ia sangat peduli pada negara-negara dunia ketiga alias negara tertinggal di dunia. Karena itu, ia pun dipercaya menjadi Duta UNDP (United Nations Development Program). Ia berkampanye untuk membantu negara miskin demi mencapai negara sejahtera seperti yang dicanangkan dalam the Millennium Development Goals. Selain berkeliling ke berbagai negara untuk mengkampanyekan antikemiskinan, ia juga beberapa kali mengadakan pertandingan sepakbola amal untuk mengumpulkan dana bagi masyarakat negara miskin.

Tekad Zidane dibarengi kerja kerasnya telah membuat impian sang maestro sepakbola itu jadi nyata. Bukan hanya mampu merubah nasib dari miskin menjadi kaya dan terkenal dari sepakbola, ia juga berusaha merubah nasib kaum miskin di negara-negara yang tertinggal. Sungguh sebuah kesuksesan sejati yang patut diteladani siapa saja.

Read More...
AddThis Social Bookmark Button

Dare to Failed  

PERNYATAAN John. F. Kennedy ini saya yakini kebenarannya. Itu bukan sekedar retorika, tetapi memang sudah terbukti dalam perjalanan hidup saya. Gagal total itulah awal karier bisnis saya.

Pada akhir 1981, saya merasa tak puas dengan pola kuliah yang membosankan. Saya nekad meninggalkan kehidupan kampus. Saat itu saya berpikir, bahwa gagal meraih gelar sarjana bukan berarti gagal dalam mengejar cita-cita lain. Di tahun 1982, saya kemudian mulai merintis bisnis bimbingan tes Primagama, yang belakangan berubah menjadi Lembaga Bimbingan Belajar Primagama.

Bisnis tersebut saya jalankan dengan jatuh bangun. Dari awalnya yang sangat sepi peminat - hanya 2 orang - sampai akhirnya peminatnya membludak hingga Primagama dapat membuka cabang di ratusan kota, dan menjadi lembaga bimbingan belajar terbesar di Indonesia.

Dalam kehidupan sosial, memang kegagalan itu adalah sebuah kata yang tidak begitu enak untuk didengar. Kegagalan bukan sesuatu yang disukai, dan suatu kejadian yang setiap orang tidak menginginkannya. Kita tidak bisa memungkiri diri kita, yang nyata-nyata masih lebih suka melihat orang yang sukses dari pada melihat orang yang gagal, bahkan tidak menyukai orang yang gagal.

Maka, bila Anda seorang entrepreneur yang menemui kegagalan dalam usaha, maka jangan berharap orang akan memuji Anda. Jangan berharap pula orang di sekitar anda maupun relasi Anda akan memahami mengapa Anda gagal.

Jangan berharap Anda tidak disalahkan. Jangan berharap juga semua sahabat masih tetap berada di sekeliling Anda. Jangan berharap Anda akan mendapat dukungan moral dari teman yang lain. Jangan berharap pula ada orang yang akan meminjami uang sebagai bantuan sementara. Jangan berharap bank akan memberikan pinjaman selanjutnya.

Mengapa saya melukiskan gambaran yang begitu buruk bagi seorang entrepreneur yang gagal? Begitulah masyarakat kita, cenderung memuji yang sukses dan menang. Sebaliknya, menghujat yang kalah dan gagal. Kita sebaiknya mengubah budaya seperti itu, dan memberikan kesempatan kepada setiap orang pada peluang yang kedua.

Menurut pengalaman saya, apabila orang gagal, maka tidak ada gunanya murung dan memikirkan kegagalannya. Tetapi perlu mencari penyebabnya. Dan justru kita harus lebih tertantang lagi dengan usaha yang sedang kita jalani yang mengalami kegagalan itu. Saya sendiri lebih suka mempergunakan kegagalan atau pengalaman negatif itu untuk menemukan kekuatan-kekuatan baru agar bisa meraih kesuksesan kembali.

Sudah tentu, kasus kegagalan dalam bisnis maupun dunia kerja, saat krisis ekonomi kian merebak dan bertambah. Ribuan orang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan kehilangan mata pencahariannya. Sungguh ironis, seperti halnya kita, suka atau tidak suka, setiap manusia pasti akan mengalami berbagai masalah, bahkan mungkin penderitaan.

Bagi seorang entrepreneur, sebaiknya jangan sampai terpuruk dengan kondisi dan suasana seperti itu. Kita harus berani menghadapi kegagalan, dan ambil saja hikmahnya (kejadian dibalik itu). Mungkin saja kegagalan itu datang untuk memuliakan hati kita, membersihkan pikiran kita dari keangkuhan dan kepicikan, memperluas wawasan kita, serta untuk lebih mendekatkan diri kita kepada Tuhan. Untuk mengajarkan kita menjadi gagah, tatkala lemah. Menjadi berani ketika kita takut. Itu sebabnya mengapa saya juga sepakat dengan pendapat Richard Gere, aktor terkemuka Hollywood, yang mengatakan bahwa kegagalan itu penting bagi karier siapapun.

Mengapa demikian? Karena selama ini banyak orang membuat kesalahan sama, dengan menganggap kegagalan sebagai musuh kesuksesan. Justru sebaliknya, kita seharusnya menganggap kegagalan itu dapat mendatangkan hasil. Ingat, kita harus yakin akan menemukan kesuksesan di penghujung kegagalan.

Ada beberapa sebab dari kegagalan itu sendiri. Pertama, kita ini sering menilai kemampuan diri kita terlalu rendah. Kedua, setiap bertindak, kita sering terpengaruh oleh mitos yang muncul di masyarakat sekitar kita. Ketiga, biasanya kita terlalu "melankolis" dan suka memvonis diri terlebih dahulu, bahwa kita ini dilahirkan dengan nasib buruk. Keempat, kita cenderung masih memiliki sikap, tidak mau atau tidak mau tahu dari mana kita harus memulai kembali suatu usaha.

Dengan mengetahui sebab kegagalan itu, tentunya akan membuat kita yakin untuk bisa mengatasinya. Bila kita mengalami sembilan dari sepuluh hal yang kita lakukan menemui kegagalan, maka sebaiknya kia bekerja sepuluh kali lebih giat. Dengan memiliki sikap dan pemikiran semacam itu, maka akan tetap menjadikan kita sebagai sosok entrepreneur yang selalu optimis akan masa depan. Maka, sebaiknya janganlah kita suka mengukur seorang entrepreneur dengan menghitung berapa kali dia jatuh. Tapi ukurlah, berapa kali ia bangkit kembali.

Purdi E Chandra

Read More...
AddThis Social Bookmark Button

Berfokus pada Kelebihan  

“Anak-anak, coba tuliskan tiga kelebihanmu, ” kata seorang guru yang hari itu menjadi pembimbing retreat bagi anak-anak sekolah dasar.

Menit demi menit berlalu namun anak-anak itu seakan masih bingung.

Dengan setengah berakting, sang guru kemudian bersuara keras : “Ayo, tuliskan! Kalau ngga, kertasmu saya sobek lo.” Anak-anak manis itu seketika menjadi salah tingkah.

Beberapa di antara mereka, memang tampak mulai menulis. Salah satu di antara mereka menulis di atas kertas, “Kadang-kadang nurutin kata ibu. Kadang-kadang bantu ibu. Kadang-kadang nyuapin adik makan.”

Penuh rasa penasaran, sang guru bertanya kepadanya : “Kenapa tulisnya kadang-kadang? “. Dengan wajah penuh keluguan, sang bocah hanya berkata : “Emang cuma kadang-kadang, pak guru”

Ketika semua anak telah menuliskan kelebihan dirinya, sang guru kemudian melanjutkan instruksi berikutnya : “Sekarang anak-anak, coba tuliskan tiga kelemahanmu atau hal-hal yang buruk dalam dirimu.”

Seketika ruangan kelas menjadi gaduh. Anak-anak tampak bersemangat. Salah satu dari mereka angkat tangan dan bertanya : “Tiga saja, pak guru?”. “Ya, tiga saja!” jawab pak guru. Anak tadi langsung menyambung : “Pak guru, jangankan tiga, sepuluh juga bisa!”.

Apa pelajaran yang bisa kita petik dari cerita sederhana itu? Saya menangkap setidaknya ada beberapa hal penting yang bisa kita pelajari. Salah satunya, kita sering tidak menyadari apa kelebihan diri kita karena lingkungan dan orang di sekitar kita jauh lebih sering mengkomunikasikan kepada kita kejelekan dan kekurangan kita.

Baru-baru ini, saya dan istri saya menyaksikan di sebuah televisi swasta pertunjukkan seni dari para penyandang cacat. Kami benar-benar terharu. Ada orang buta yang begitu piawai bermain piano atau kecapi. Pria tanpa lengan dan wanita muda yang tuli dapat menari dengan begitu indahnya. “Luar biasa, dia bisa menari dengan penuh penghayatan. Yang membuat saya heran, dia kan tuli tapi kok bisa mengikuti irama lagu dengan sangat tepat?”, kata istri saya terkagum-kagum.

Seorang pria buta yang bernyanyi dengan nada merdu sempat berkata, “Saudaraku, saya memiliki dua mata seperti Anda. Namun yang ada di depan saya hanyalah kegelapan. Ibu saya mengatakan saya bisa bernyanyi, dan ia memberi saya semangat untuk bernyanyi.”

Benarlah apa yang dikatakan Alexander Graham Bell : “Setelah satu pintu tertutup, pintu lainnya terbuka; tetapi kerap kali kita terlalu lama memandangi dan menyesali pintu yang telah tertutup sehingga kita tidak melihat pintu yang telah dibuka untuk kita.”

Fokuskan perhatian pada kelebihan kita dan bukan kelemahan kita.

Read More...
AddThis Social Bookmark Button